kontak :::

esa taufik
26 agustus 1986
blimbingsari CT IV/75 blok D 41 sleman yogyakarta
D Teknik Mesin Universitas Gajah Mada
+628175411686
ICQ 276650476
fiendster
esataufik@yahoo.com

#delayota, #yogyakarta
nick ^kudakulari



arsip :::

februari 2003
maret 2003
april 2003
mei 2003
juni 2003
juli 2003
agustus 2003
september 2003
oktober 2003
november 2003
januari 2004
februari 2004
maret 2004
april 2004
mei 2004
juni 2004
juli 2004
agustus 2004
september 2004
oktober 2004
november 2004
desember 2004
januari 2005
februari 2005
maret 2005
april 2005





kotak :::
Name :
Web URL :
Message :

 
mesin penghitung kecocokan loe ama pasangan loe
+ =




link me :


UNDER CONTRUCTION
promo :


aku alumni sini!


aku kul d sini!


pengen punya weblog ?


add gw di fs esataufi@yahoo.com!


DOT TK


Bravenet.com
gabung milis plpa 2003


Visitors:
HOME BUKU TAMU FOTO

Wednesday, July 30, 2003 :::
 
COMPETITION IS GOOD / PERSAINGAN ITU BAIK

Our way of life is highly competitive. We are always racing with one another. We have to show results. If possible, we must try to break records. Today the only way my work is judged is by comparing it with the work of others. No matter how well I do, if the other person does better, then I become second rate. And so in that sense, everyone
becomes a rival. My friend's success becomes a threat to me; and that is how jealousy is born.

===== Jalan hidup kita itu dipenuhi persaingan, kompetitif sekali. Kita selalu berlomba dengan sesama kita. Kita harus menunjukkan hasil. Kalau bisa, kita harus memecahkan rekor-rekor. Hari ini satu2nya jalan untuk menilai karyaku ialah dengan membandingkan dengan pekerjaan2 orang lain. Tidak perduli be-tapa baiknya kinerjaku, kalau orang lain mengerjakannya lebih baik, maka aku jadi mutu kedua. Jadi, dalam pengertian itu,setiap orang akan menjadi pesaing. Sukses temanku akan menjadi ancaman bagiku; dan begitulah awal iri hati ter- lahirkan.


In India they have a story about two students called Akbar and Birbal. Akbar draws a line on the blackboard and asks Birbal to shorten it without erasing it. So Birbal goes to the board and draws a longer line
under Akbar's and the job is done.

===== Di India mereka punya suatu kisah mengenai 2 mahasiswa bernama Akbar dan Birbal. Akbar melukis suatu garis dipapan tulis dan minta Birbal untuk me-mendekkan tanpa menghapusnya. Jadi Birbal maju kepapan tulis, menggambar sebuah garis yang lebih panjang dibawah garisnya Akbar dan, bereslah sudah!


You and I might be a long line when we stand all alone. But just let a longer line stand next to us, and suddenly from long we have become short.


===== Kamu dan aku mungkin saja merupakan garis yang panjang, apabila kita cuma berdiri berduaan saja. Tapi,coba biarkan satu garis yang lebih panjang berdiri disamping kita, dan mendadak maka kita akan berubah dari garis yang panjang menjadi yang pendek.

That may be the reason why we resent the success of others. Their success casts a shadow on mine. I resent them. But their competitive presence is good for me. It makes me keep an eye on my line.

===== Itulah sebabnya maka kita kurang menyenangi suksesnya orang lain. Keberhasilan mereka menutupi suksesku dengan bayangannya. Aku sebal, tidak senang. Tapi kehadiran mereka sebagai pesaing sebenarnya baik untukku. Itu membuatku waspada dan memperhatikan garisku.


"Don't be afraid of competition or opposition. Remember, a kite rises gainst, not with wind."

===== "Janganlah takut pada kompetisi atau oposisi. Ingatlah, sebuah layangan naik dan terbang melawan, bukan bersama angin."



::: diketik oleh esa at 10:09 AM


Monday, July 28, 2003 :::
 
CARA MENGATASI EMOSI

1. Sadarilah emosi. Anda berpaling sebentar dari pertengkaran mulut tersebut (mis: pergi keluar ruangan) dan memperhatikan baik-baik beraneka ragam emosional yang sedang anda rasakan. Lalu tanyakan pada diri anda: apa yang aku rasakan? Malu (karena teman anda lebih benar/baik), atau takut (ia lebih pandai dan semakin lama semakin marah), merasa lebih (karena anda merasa menang beberapa hal dari kawan anda dan seringkali ia mengakui)? Atau masih adakah emosi-emosi lainnya yang muncul?

2. Akuilah emosi. Dengan sadar anda perhatikan emosi anda yang terjadi pada saat itu agar anda tahu emosi apakah itu. Perkirakan berapa kuat emosi itu.

3. Selidikilah emosi! Bila anda benar-benar ingin mengetahui banyak-banyak tentang diri sendiri, tanyakan mengapa kemarahan terjadi, bagaimana ia masuk pada diri anda dan dari mana asalnya. Telusurilah jejak asal emosi itu. Mungkin anda dapat menyingkap seluruh sangkut pautnya saat ini, namun anda mungkin akan menjumpai semacam rasa rendah diri yang belum pernah anda akui keberadaannya.

4. Ungkapkanlah emosi Anda. Apa adanya saja. Tanpa ada interpretasi, tanpa penilaian. Katakan: Ayo kita berhenti sebentar, saya merasa terlalu tegang, jangan-jangan saya akan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak diinginkan untuk dikatakan. Dalam hal ini penting sekali untuk tidak menuduh atau memberikan penilaian dalam memberitahukan perasaan ini kepada teman anda. Anda tahu pasti bukan kawan bicara anda yang salah. Tetapi dalam diri anda sendiri terdapat sesuatu hal yang kurang beres.

5. Integrasikan emosi. Setelah mendengarkan emosi anda, setelah menanyakan dan mengungkapkan, sekarang biarkan akal sehat menilai apa yang sebaiknya anda lakukan. Katakan misalnya : mari kita mulai lagi, rupanya tadi saya terlampau ngotot, hingga tidak dapat mendengarkan dengan baik. Saya ingin mendengar alasanmu lagi. Atau: kamu tidak keberatan kalau kita akhiri saja perdebatan ini. Saat ini saya merasa mudah tersinggung untuk membicarakan hal yang serius.

::: diketik oleh esa at 3:49 AM


Sunday, July 27, 2003 :::
 
ASAL MULA ADANYA HAMA


Adalah suatu dongeng, yaitu mengenai Batara Siwa yang beristana di Gunung Mahameru. Beliau mempunyai tiga orang putera di Bali. Tabik pekulun 1) putera yang paling tua beristana di Gunung Agung putra yang kedua beristana di Andakasa. Putera yang ketiga atau yang terkecil di Pura Batur. Ketiga orang Putra yang bersaudara itu diberi nasehat oleh Betara Siwa.”Wahai putra-puteraku bertiga hendaklah kamu mengerti dan baik-baiklah kamu bersaudara di sini, di Bali. Kamu memerintah pulau Bali ini jangan sampai sekali –kali bertengkar antar saudara, Hendaklah kalian selalu rukun !”. Aku sekarang beristana di Gunung Semeru dan dari sanalah aku akan memperhatikan caramu memerintah pulau Bali ini”, demikian perkataan Batara Siwa. Lalu berkata ketiga putera beliau ....
lanjutan ceritera


jadi keinget masa-masa TK = belajarnya belom banyaaaak kayak sekarang... ghrrmm

::: diketik oleh esa at 6:38 AM




esa © 2004
Kembali ke Atas